Selasa, 10 Oktober 2017

Pada awalnya handicraft keramik di daerah Kundi, Yogyakarta tak mempunyai corak sama sekali. Tetapi legenda matinya seekor kuda telah menginspirasi para pengrajin untuk menimbulkan motif kuda pada tak sedikit produk, khususnya kuda-kuda pengantar gerabah alias gendeng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, tidak hanya dari motif katak, jago dan gajah.

Sentuhan Desain Modern Pada Keramik

Seiring perkembangan, dengan masuknya pengaruh modern dan adat luar melewati beberapa media, seusai pertama kali diperkenalkan mengenai Kasongan oleh Sapto Hudoyo kurang lebih 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil dan dikomersilkan dalam skala besar oleh Sahid Keramik kurang lebih tahun 1980-an, saat ini wisatawan bisa menjumpai beberapa aneka motif pada keramik. Bahkan wisatawan bisa memesan tipe motif handicraft export menurut keinginan semacam burung merak, naga, bunga mawar dan tak sedikit lainnya. Tipe produksi sendiri telah mencakup tak sedikit jenis. Tak lagi berkutat pada mainan anak-anak (alat bunyi-bunyian, katak, celengan) dan kebutuhan dapur saja (kuali, pengaron, kendil, dandang, kekep dan lainnya).

Memasuki gapura Kasongan, bakal tersusun galeri-galeri keramik handicraft export sepanjang bahu jalan yang menjual beberapa barang hias. Bentuk dan manfaatnya pun telah beraneka ragam, mulai dari asbak rokok kecil alias pot bunga yang tingginya mencapai bahu orang dewasa. Barang hias handicraft pun tak hanya yang mempunyai manfaat, tetapi juga barang-barang yang hanya sekedar menjadi pajangan.

Popular Posts